Bukanlah tanpa sebab jikalau Allah bersumpah dengan sesuatu di dalam al-Qur'an, ya tentu bukan tanpa sebab dan sebuah keniscayaan pasti terdapat maksud di dalamnya. Pun ayat diatas, al-Qalam, firmanNya, sebagaimana termaktub dalam kitab suci kita, al-Qur'an. Meski ayat tersebut bukanlah ayat pertama yang diturunkan, tapi bukanlah tanpa maksud mengapa Allah sampai bersumpah dengan kata "..wa al qalami.."
Sekali lagi, sekalipun ayat tersebut bukanlah ayat yang Allah turunkan pertama kali, namun tentu ada pesan dan maksud mengapa Allah sampai bersumpah dengan nama pena. Menurut hemat si penulis abal-abal ini, selain perintah membaca, Allah pun rupanya ingin menunjukkan bahwa si Baca mempunyai kawan yakni si Qolam alias pena yang lebih konkritnya adalah menulis.
Kenapa harus menulis?
Jika menengok sejarah Islam, para ulama, mereka, dengan keilmuannya yang luar biasa, menjaga dan menebarkan kebermanfaatan ilmu yang dimilikinya dengan menulis. Sebagaimana telah kita kenal, seorang ulama yang begitu luar biasanya, Ibnu Qayyim Aj-Jauziyyah yang hampir menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menulis, dan tentu ulama-ulama lainnya yang begitu banyak jumlah dari karya mereka, yang hingga saat ini kita bisa merasakan manisnya warisan keilmuan mereka yang kesemuanya diabadikan dalam tulisan mereka. Bayangkan jika para ulama dahulu enggan untuk menulis, enggan untuk membagi dan menebar kemanfaatan akan ilmunya, mungkin saya tidak akan bisa masuk syari'ah, sebab istilah syari'ah nya pun mungkin asing, sebab kita tak pernah membacanya.
Bayangkan juga jikalau Al-Qur'an dan hadits tidak terkodifikasikan, sebab tidak ada yang mau menuliskannya, para penghafal tak mau membagikan hafalannya untuk dituliskan? alangkah akan kesulitannya kita dalam beragama, sebab kita tak memiliki pedoman hidup secara tertulis, karena disadarikemampuan kita tidak lah mencapai level dhabit sebagaimana para sahabat dan ulama terdahulu yang memiliki kedhabitan hafalan yang baik.
Perihal menulis pun banyak peribahasa ataupun pepatah yang mengatakan bahwa : "Pena memiliki kekuatan lebih mematikan daripada pedang. Pena dapat membuat luka jauh lebih besar daripada pisau". meski pepatah tersebut datang dari negeri Ginseng sana, Korea, namun pepatah tersebut cukup memberikan gambaran bahwa pena pun memiliki kekuatan yang dapat dikatakan berimbang dengan pisau ataupun pedang bahkan mungkin lebih. Sehingga tak heran, di era kekinian, ada yang mengatakan bahwa berjihad pun dapat dengan goresan pena, dengan melahirkan tulisan yang mampu menghujam dan memberikan gelora perubahan. Meski demikian, sebagaimana pena itu diibaratkan dengan pisau ataupun pedang, sudah barang tentu si Pena pun perlu di asah layaknya pisau atau pedang. Tanpa di asah, tentu pena hanya akan sekedar pena yang bila tak digunakan justru akan mengering dan tak akan memberikan manfaat.
Perihal menulis pun banyak peribahasa ataupun pepatah yang mengatakan bahwa : "Pena memiliki kekuatan lebih mematikan daripada pedang. Pena dapat membuat luka jauh lebih besar daripada pisau". meski pepatah tersebut datang dari negeri Ginseng sana, Korea, namun pepatah tersebut cukup memberikan gambaran bahwa pena pun memiliki kekuatan yang dapat dikatakan berimbang dengan pisau ataupun pedang bahkan mungkin lebih. Sehingga tak heran, di era kekinian, ada yang mengatakan bahwa berjihad pun dapat dengan goresan pena, dengan melahirkan tulisan yang mampu menghujam dan memberikan gelora perubahan. Meski demikian, sebagaimana pena itu diibaratkan dengan pisau ataupun pedang, sudah barang tentu si Pena pun perlu di asah layaknya pisau atau pedang. Tanpa di asah, tentu pena hanya akan sekedar pena yang bila tak digunakan justru akan mengering dan tak akan memberikan manfaat.
Allahu Akbar.
Meski demikian, nyatanya, diri ini pun tak mampu menulis, pun tulisan ini di buat bukan sebab si diri ini dapat menulis, bukan!
justru sebab si diri ini lah tak dapat menulis dan merasa kesal akan
dirinya yang tak dapat kunjung menulis, sehingga ingin rasanya membuat
teguran keras kepada si diri ini agar mau memberanikan diri untuk mencoba
menulis. ya, menulis.
Sebab tak dipungkiri,
menulis, selain bentuk upaya mengikat ilmu agar tidak lari
kemana-mana, juga merupakan representasi dari keilmuan
seseorang, bentuk dari pengejewantahan hasil bacaan, dan merupakan wujud dari upaya menebar kebermanfaatan dan -sudah pasti selaku muslim- juga demi tersampaikannya risalah kebaikan, Dakwah.
Wallahua'lam.


