Wednesday, March 11, 2015

Menulis (idealnya), Kawan si Membaca.

Nuun. Wa al-Qalami wa maa Yasthuruun..

Bukanlah tanpa sebab jikalau Allah bersumpah dengan sesuatu di dalam al-Qur'an, ya tentu bukan tanpa sebab dan sebuah keniscayaan pasti terdapat maksud di dalamnya. Pun ayat diatas, al-Qalam, firmanNya, sebagaimana termaktub dalam kitab suci kita, al-Qur'an. Meski ayat tersebut bukanlah ayat pertama yang diturunkan, tapi bukanlah tanpa maksud mengapa Allah sampai bersumpah dengan kata "..wa al qalami.."

Sekali lagi, sekalipun ayat tersebut bukanlah ayat  yang Allah turunkan pertama kali, namun tentu ada pesan dan maksud mengapa Allah sampai bersumpah dengan nama pena. Menurut hemat si penulis abal-abal ini, selain perintah membaca, Allah pun rupanya ingin menunjukkan bahwa si Baca mempunyai kawan yakni si Qolam alias pena yang lebih konkritnya adalah menulis.

Kenapa harus menulis?
Jika menengok sejarah Islam, para ulama, mereka, dengan keilmuannya yang luar biasa, menjaga dan menebarkan kebermanfaatan ilmu yang dimilikinya dengan menulis. Sebagaimana telah kita kenal, seorang ulama yang begitu luar biasanya, Ibnu Qayyim Aj-Jauziyyah yang hampir menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menulis, dan tentu ulama-ulama lainnya yang begitu banyak jumlah dari karya mereka, yang hingga saat ini kita bisa merasakan manisnya warisan keilmuan mereka yang kesemuanya diabadikan dalam tulisan mereka. Bayangkan jika para ulama dahulu enggan untuk menulis, enggan untuk membagi dan menebar kemanfaatan akan ilmunya, mungkin saya tidak akan bisa masuk syari'ah, sebab istilah syari'ah nya pun mungkin asing, sebab kita tak pernah membacanya.
 
Bayangkan juga jikalau Al-Qur'an dan hadits tidak terkodifikasikan, sebab tidak ada yang mau menuliskannya, para penghafal tak mau membagikan hafalannya untuk dituliskan? alangkah akan kesulitannya kita dalam beragama, sebab kita tak memiliki pedoman hidup secara tertulis, karena disadarikemampuan kita tidak lah mencapai level dhabit sebagaimana para sahabat dan ulama terdahulu yang memiliki kedhabitan hafalan yang baik.

Perihal menulis pun banyak peribahasa ataupun pepatah yang mengatakan bahwa : "Pena memiliki kekuatan lebih mematikan daripada pedang. Pena dapat membuat luka jauh lebih besar daripada pisau". meski pepatah tersebut datang dari negeri Ginseng sana, Korea, namun pepatah tersebut cukup memberikan gambaran bahwa pena pun memiliki kekuatan yang dapat dikatakan berimbang dengan pisau ataupun pedang bahkan mungkin lebih. Sehingga tak heran, di era kekinian, ada yang mengatakan bahwa berjihad pun dapat dengan goresan pena, dengan melahirkan tulisan yang mampu menghujam dan memberikan gelora perubahan. Meski demikian, sebagaimana pena itu diibaratkan dengan pisau ataupun pedang, sudah barang tentu si Pena pun perlu di asah layaknya pisau atau pedang. Tanpa di asah, tentu pena hanya akan sekedar pena yang bila tak digunakan justru akan mengering dan tak akan memberikan manfaat.

Allahu Akbar. 

Meski demikian, nyatanya, diri ini pun tak mampu menulis, pun tulisan ini di buat bukan sebab si diri ini dapat menulis, bukan! justru sebab si diri ini lah tak dapat menulis dan merasa kesal akan dirinya yang tak dapat kunjung menulis, sehingga ingin rasanya membuat teguran keras kepada si diri ini agar mau memberanikan diri untuk mencoba  menulis. ya, menulis.
Sebab tak dipungkiri, menulis, selain bentuk upaya mengikat ilmu agar tidak lari kemana-mana, juga merupakan representasi dari keilmuan seseorang, bentuk dari pengejewantahan hasil bacaan, dan merupakan wujud dari upaya menebar kebermanfaatan dan -sudah pasti selaku muslim- juga demi tersampaikannya risalah kebaikan, Dakwah.

Wallahua'lam.

Friday, February 27, 2015

Ini "Gurindam"

Kurangi menggantungkan hidup dan impian pada manusia.
Hanya dapat berjalan jika dikemudikan orang dan jika banyak rombongan.

Kita dilahirkan merdeka.
Dipersilahkan melanglang buana dengan kaki dan kepala karunia Tuhan.

Mengapa justru menyulitkan diri dengan mau dijadikan kendaraan orang?

Yang pada akhirnya tak menjadikan kita berkembang?

Tidakkah kau ingat, bagaimana Rasul berkata dalam sabdanya?
"sebaik-baik usaha adalah yang dilakukan sendiri oleh tangannya?

Wallahua'lam bi Shawab

Thursday, January 02, 2014

Final Exam

detik detik menjelang UAS perdana dalam status pendidikan baru, ya UAS perdana di Perguruan tinggi.. rasanya ituu berkecamuk sekali pikiran ini, 'bisa gak ya?' , 'IP nya ntar berapa ya?' -meski pada dasarnya IP bukan tujuan akhir yang penting proses untuk dapet IP itu hehe-, dsb masyaAllah hmm

tegang? PASTI! takut? IYA! ragu-ragu? SEKALI!. Tapi, apakah semua perasaan itu akan membantu kelancaran UAS ku? IIE! JANAI! maka dari itu harus gimana? OPTIMIS jangan PESIMIS!!

Do'a--Ikhtiar--Tawakal...

"..Fa idza 'azamta fa tawakkal 'alallah..."

Kalo berusaha pasti Allah kasih jalan.. daann dalam pelaksanaanya usahakan dengan jalan yang halal jangan yang syubhat alias nyontek hehe
mari bersama menjadi agen UAS bersih, Hamasah van Ganbatte, Allahu akbar!


Wise Man said.. (Orang Bijak berkata)

A wise man said that
A close mind is a good thing to lose.
(Berpikiran tertutup hanya akan berujung pada kekalahan)

A conscience is what hurts when all your other parts feel so good.
(Hati nurani adalah yang merasakan sakit ketika semua bagian tubuhmu merasa sakit)

A friend is one who walks in when the rest of the world walks out.
(Teman adalah yang masuk dalam hidup kita etika semua orang lari meninggalkan kita)

A good exercise for the heart is to bend down and help another up.
(Latihan terbaik untuk hati adalah membungkuk dan membantu orang lain)

A good scare is worth more to a man than good advice.
(Sesuatu yang sangat menakutkan terkadang lebih berharga daripada sebuah nasihat yang baik)

A man has no more character than he can command in a time of crisis.
(Seorang yang tidak memiliki karakter lain selain keterampilan memimpin justru dapat memerintah di waktu krisis.)


--Anonymous--


courtesy: MAPI