Friday, December 13, 2013

Indah namun Berkonsekuensi; "Ukhuwah"

Definisi Ukhuwah

Secara pengertian yang telah dipahami di kalangan masyarakat, Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara sederhana, ukhuwah Islamiyyah adalah perpanjangan dari sebuah ikatan yang terangun dari kekuatan keimanan dan spiritual yang kemudian menumbuhkan perasaan kasih sayang dengan sesamanya, dan ini merupakan karunia Allah kepada hambaNya.

Dalil bahwa ukhuwah merupakan karunia Allaah adalah Firman-nya :

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allaah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103).
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمً

Dan (Dia-lah) yang mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allaah telah mempersatukan hati mereka.  Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal [8]: 63).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Akhir-akhir ini saya sering dibingungkan dengan kata ukhuwah, memang telah dipahami bersama bahwa ukhuwah adalah sebagaimana di ungkap di atas. Namun yang menjadi permasalahannya, terkadang konsep itu bertentangan dengan relitas. Terkadang orang hanya memandang bahwasannya uhkhuwah ialah, Tertawa bersama, Makan bersama bercanda bersama dan sebagainya . Padahal esensi dari ukhuwah itu bukan hanya tertawa bersama dsb namun mampu merasakan apa yang saudaranya rasakan, sebagaimana dalam hadits disebutkan "tidak disebut orang beriman salah satu diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai saudaranya sendiri." secara sedarhana hadits tersebut dapat dianalogikan seperti , jika kita merasa sakit jika di cubit, maka janganlah kita mencubit saudara kita, karena kita sudah tau kalo dicubit itu sakit, bukan malah sebaliknya sudah tau dicubit itu sakit tapi malah menyengaja mencubit.

Disamping itu dalam berukhuwah harus memperhatikan adab. Sedihnya, hal ini sering dilupakan. sebab, jika adab tertunaikan, setidaknya keadilan dalam berukhuwah dapat terwujud meski tak mungkin ideal. Namun setidaknya, tanggung jawab akan terbangun, saling menghormati atas hak saudara kita, sehingga tidak mendzolimi, sebab dalam berukhuwah pun saya rasa perlu memperhatikan nilai-nilai keadilan, meski keadilan adalah suatu nilai yang terkadang sulit di capai secara ideal, namun tak ada salahnya mengupayakan keadilan. Bukankah dalam keadilan akan ada ketentraman?

Jadi Intinya adanya sebuah ukhuwah ialah bukan untuk saling memberatkan ataupun membebani namun untuk saling meringankan beban saudara kita, atau jikalau kita tidak mampu meringankan beban saudara kita, cukuplah kita jangan menambah lagi beban kepadanya.

Dan dua ucapan yang sering terlupakan ialah Terimakasih dan Maaf, jangan sampai dua ucapan itu terlupakan manakala kita dibantu ataupun manakala kita telah berbuat kesalahan pada seudara kita.  Wallahu a'lam bi shawab.

A'udzu bikalimaatiLlahi at-Taammaati min syarii maa kholaq.

#Tulisan ini tidak bermaksud apapun, ini merupakan teguran terkhusus bagi si yg menulis, juga dengan harapan dapat bermanfaat bagi yang lainnya.
 

Wednesday, December 04, 2013

Someday...

#Tokyo #Skytreetower
InsyaAllah Aamiin..

Allah itu Maha Adil, Kawan.

Sebelum menulis post ini, saya jadi teringat akan perkataan ustadz  sewaktu  masih Mu'allimin,kurang lebih seperti ini; "Allah tidak pernah menciptakan produk gagal dan manusia yang sia-sia" dari perkataan itu maka dapat diambil kesimpulan bahwa semua manusia yang diciptakan oleh Allah pasti di anugerahi berupa kelebihan serta keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Usykuru..

 Terkadang kita beranggapan bahwa seseorang yang memiliki kelebihan ialah orang yang pandai secara akademik, yang mendapat peringkat pertama atau bahkan yang berhasil mendapat IP Cumlaude, memang itu benar adanya TAPI bukan berarti yang tidak seperti itu payah, karena bisa jadi memang kelebihan dia bukanlah dalam bidang akademik, bisa jadi dalam seni atapun sebagainya , mungkin kecenderungannya bukanlah pada otak kiri melainkan pada otak kanan, begitupun sebaliknya. Maka rasanya tidak patut manakala kita hanya meelihat seseorang hanya dari satu sisi saja atau hanya dengan menggunakan kacamata kuda. Maka sungguh luar biasa manakala seorang Guru mampu memahami kelebihan muridnya dan tetap mampu memberikan yang terbaik untuk muridnya tanpa terfokus pada kekurangannya..

Allah berfirman dalam Q.S Az-zukhruf : 32; "..dan Kami telah meniggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain..". Ayat tersebut jika dipahami secara sederhana menunjukan bahwasannya Allah itu memberikan kelebihan yang berbeda kepada setiap hambaNya, untuk apa? untuk saling membantu dan saling melengkapi sehingga menjadikan simpul yang bernama Ukhuwah.

Oleh karena itu rasanya tidak patut manakala kita mengeluh dan tidak bersyukur dengan apa yang Allah anugerahkan kepada kita, karena bentuk dari rasa syukur itu bukan hanya sekedar berucap Alhamdulillah melainkan dengan memaksimalkan yang kita miliki dengan jalan yang benar itu pun merupakan bentuk syukur kita kepada Allah.

Mari kita bersama berusaha memaksimalkan apa yang Allah karuniakan namun jangan sampai menjadikan kita riya manakala kita mampu memaksimalkan kelebihan yang kita punya. Wallahu a'lam.



NB: Tulisan ini dibuat sembari mengingatkan diriku sendiri, Bismillah selamat berproses, がんばって ください ^^

Friday, November 23, 2012

PELAJAR PERSIS DULU, KINI, DAN YANG AKAN DATANG


Persis muncul dengan gerakan pembaharuannya, yang bergerak dalam bidang Dakwah dan Pendidikan. Kemudian untuk pertama kalinya Persis mendirikan lembaga pendidikan, sehingga munculah para pelajar-pelajar Persis yang mempunyai keinginan memperdalam dan mampu mendakwahkan, mengajarkan, dalam upaya membela ajaran Islam.
Kembali kepada sejarah, bagaimana pelajar Persis dulu dalam kacamata sejarah.
Sebagaimana kita ketahui, Persis, dahulu muncul dengan gerakannya yang keras dan benar-benar menampakkan taringnya dalam upaya pemberantasan Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat. Dan hal itu menular kepada para pelajar atau para kader Persis pada saat itu. Mereka masuk ke lembaga pendidikan Persis, dengan bercita-citakan serta mempunyai keinginan untuk memperdalam ajaran agama dalam  upaya memurnikan kembali ajaran islam yang telah banyak terkontaminasi oleh hal-hal yang berbau syirik dan munkarat. Ini terbuktikan dengan kepiawaian para pelajar Persis terdahulu dalam hal berdebat, berorasi, membaca kitab, serta kemampuan menterjemahkan bahasa, khususnya bahasa Arab, sebagai penunjang dalam menyampaikan Dakwahnya kepada masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda dan pemahaman yang berbeda. Salah satu contohnya adalah KH. Abdul Latief Muchtar, beliau adalah salah satu pelajar Persis yang kini telah berhasil memberikan warna baru bagi Persis.
Dalam beberapa hal, pelajar Persis dulu dan sekarang tidak jauh berbeda. Bertahan dengan gerakan pembaharuannya namun tidak melunturkan esensi dari dakwah itu sendiri yang tetap ber-visikan memberantas Tahayul, bid’ah dan khurafat.  Namun, tidak bisa dipungkiri perubahan pasti akan terjadi. Pelajar persis masa kini mulai mengubah metode mereka dalam penyampaian dakwahnya. Dahulu  para kader persis dikenal dengan gerakan ‘shock therapy’ nya namun kini pelajar Persis tampak ‘low profile’ dan lebih sering menggunakan metode monolog atau ceramah dalam menyampaikan dakwahnya, berbeda dengan para pendahulunya yang lebih sering menggunakan metode debat atau berorasi. Karena  para pelajar Persis, kini mulai menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan zaman dan kebutuhan umat pada masa kini yang lebih kritis dan realistis. Namun adapula yang disayangkan, kini orientasi para pelajar Persis mulai berbeda dengan para pelajar Persis dulu, yang memang mereka memasuki lembaga pendidikan Persis dengan keinginan kuat ingin mendalami ajaran islam , namun kini sepertinya hal itu mulai meluntur seiring mulai majunya zaman dan mulai banyaknya pengaruh barat yang masuk kedalam kehidupan para pelajar Persis. Terkadang, para pelajar persis masa kini, juga cenderung membanggakan masa lalunya, hanya membanggakan kesuksesan-kesuksesan yang telah dicapi oleh para pendahulunya.
Untuk selanjutnya, pelajar Persis yang akan datang, tentunya tercermin dari generasi pelajar Persis yang sekarang, akan meninggalkan jejak seperti apa untuk mereka para pejuang Persis di masa mendatang. Pelajar Persis yang akan datang tentunya masih dalam bentuk sebuah tanda Tanya yang besar, yang dalam tanda Tanya itu penuh dengan harapan-harapan para pemimpinnya terdahulu ataupun para pemimpin di masa sekarang, agar pelajar Persis yang akan datang mampu menjadi lebih baik dari para pendahulunya dan mampu meneruskan cita-cita luhur para pemimpinnya yang terdahulu dalam upaya memurnikan kembali ajaran-ajaran islam. Akankah semua itu terjadi ? hanya dengan niat baik, semangat, serta kesungguhan  para generasi Persis masa kini yang akan menjadi penentu bagaimana  Genarasi Persis yang selanjutnya, Wallahu’alam bi shawab.